Kamis, 21 November 2013

Oleh-Oleh #Kampus Fiksi Roadshow Solo

#Kampus Fiksi di Solo?
Pokoknya harus ikut!

Itulah tekadku begitu membaca pengumuman adanya #Kampus Fiksi Roadshow yang akan diadakan di toko buku Toga Mas Solo. Berhubung dulu pernah mendaftar #Kampus Fiksi yang reguler dan tentu saja tidak lolos! (ayeee, bangga bener tidak lolos :D), maka demi apa pun aku harus ikut #Kampus Fiksi yang di Solo ini. Mulailah aku mengirim persyaratan pendaftarannya melalui email.Syaratnya mudah. Calon peserta hanya disuruh untuk mengirim surat pernyataan kesanggupan mengikuti acara yang ditempeli materai dan ditandatangani, kemudian discan, dan selesai. Syaratnya memang tak seribet ketika mendaftar #Kampus Fiksi yang reguler, yang diharuskan membuat cerpen dan diseleksi.

Tak butuh waktu lama, hanya selang sehari dari pengiriman email, pihak Diva Press memberikan balasan lewat email pula bahwa aku menjadi salah satu peserta #Kampus Fiksi Roadshow di Solo. Alhamdulillah. Padahal sempat takut tidak kebagian seat, karena aku telat tahu pengumumannya.


Setelah kepastian diterimanya diriku sebagai peserta, mulai deh aku melancarkan rayuan maut untuk suamiku, agar si Mas bersedia mengantar istrinya yang cantik jelita dan tak bisa naik motor ini pada hari H nanti. Maklum, kalau tidak dipesan duluan, si Mas-nya jadwal sangat padet seperti roti bantet :D


Selasa, 10 September 2013

Aku Ingin Seperti Mereka, Mak!



Gambar hanya ilustrasi

Aku tak pernah meminta,
hidup susah dan terlunta
Tak bisa memungkiri iri
Kerap kali membandingkan diri..


Mak, aku ingin seperti mereka
Tertawa bersama, langkah kaki nan lincah
Berselempang tas dan bernyanyi
riuh menentramkan hati...

Sabtu, 07 September 2013

Sejenak Kehilanganmu


Ini dia penampakan lelaki kecil saya :)
Kemarin menjelang maghrib, saya dibuat bingung tujuh keliling oleh lelaki kecil saya. Pasalnya, dia ngilang tiba-tiba. Pas waktu maghrib pula. Duhhh, mendadak hati jadi kebat-kebit takut lelaki kecil saya digondol kolong wewe seperti yang sering dipercaya orang tua zaman dulu. Itulah mengapa orang tua zaman dulu sering melarang anak-anak main di luar rumah waktu maghrib. Konon katanya sih banyak kolong wewe yang menculik anak-anak. Hiiyyy, serem. Amit-amit. Kalau zaman sekarang mungkin si kolong wewenya ya yang takut, secara dimana-mana lampu menerangi jalan-jalan desa. Tapi tetep aja dong, sebagai seorang ibu, rasa takut kehilangan itu tetap ada.

Sebenarnya saya juga yang lengah. Waktu itu saya sedang berada di kamar, tengah bersiap-siap melaksanakan sholat maghrib. Tiba-tiba lelaki kecil saya membuka pintu kamar dan keluar. Biasanya sih kalau dia keluar begitu, dia mau ikut Mbah Uti-nya ke masjid.

Jumat, 06 September 2013

Sebelum Usia 30 Tahun



gambar diambil semena-mena dari sini

Hidup harus dijalani dengan legowo, tapi bukan berarti lantas tak melakukan apapun!

Ya, mungkin itulah yang menjadi salah satu ‘kalimat andalan’ saat diri ini mulai lelah dengan situasi yang kadang membuat pikiran ruwet dan semrawut. Setelah saya bersusah payah melakukan sesuatu, namun hasilnya ‘nol besar’, sehingga tak dipungkiri rasa kecewa, marah, atau sebentuk caci maki keluar dari bibir manis ini. Nah, di saat itulah biasanya saya berusaha bersikap legowo dengan berpikir lebih jauh bahwa manusia itu hanya bisa berusaha dan berdoa. Selanjutnya, tetap Allah yang menentukan segalanya. Tapi yang sering saya tekankan pada diri sendiri, bahwa sikap legowo itu bukan berarti saya lantas menyerah untuk usaha-usaha selanjutnya. Bukankah ada banyak jalan menuju ke Roma?
*Ah, terlalu kepanjangan prolog, kayaknya :D


Selasa, 03 September 2013

Bukan Obral Nomor, Lho Ya...!



Sudah lumayan lama suami merintis usaha secara online. Awalnya dia menjual nomor-nomor cantik yang sama cantiknya seperti istrinya ini, tapi akhirnya beberapa waktu terakhir barang-barang jualannya beralih ke produk-produk kecantikan dan herbal. Bukan hanya melayani orderan luar kota, namun juga merambah ke orderan dalam kota. Dan hebatnya, pesanan-pesanan itu diantarnya. Jarang-jarang lho ada penjual online yang mau diajak cod'an.

Melihat prospek yang begitu menggiurkan ini (halah, bahasanya), aku pun tertarik ikut membantu suami jualan via online. Aku mulai mengikuti jejaknya menawarkan produk-produk yang sekiranya laris di pasaran. Awalnya sih, nggak ada yang nyantol. Kebanyakan cuma pada nanya-nanya doang. Sebel? Nggak sih. Tapi kecewa iya, hehe. Tapi tetep dong pasang iklan terus, orang namanya juga jualan. Dan Alhamdulillah, satu-dua-tiga orderan mulai masuk. Yes, setidaknya itu bisa mendongkrak pundi-pundi keluarga kami. :D