Sabtu, 11 Agustus 2012

Aku dan Kau

Tak terasa tiga tahun kita berlayar dalam 'biduk kecil' yang kau kemudikan. Banyak kita lalui suka-duka kehidupan yang kadang membuat kita terasa terhempas dalam ujian. Tawa dan tangis pun tak lelah mengiringi perjalanan kita. Namun dekapan kasihmu akan selalu membuatku merasa nyaman menyandarkan kepalaku di dadamu.

Duhai, kau belahan jiwaku... Maafkan aku jika ada kata yang sering menggores luka, lakuku yang sering membuatmu kecewa. Maaf, maaf... dan maaf hanya bisa kuucap kini.

Jumat, 03 Agustus 2012

Ketika Bocah Berceloteh

Tak terasa tepat di tanggal 19 Juli kemarin lelaki kecilku sudah genap berusia 2 tahun. Tahun dimana dikatakan seorang bocah mengalami masa-masa keemasan dalam perkembangan otaknya. Di masa-masa inilah seorang bocah mudah untuk dijejali dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Asal semua itu tak memberatkannya.

Sejak belajar bicara, sudah ketahuan kalau Abi (nama panggilan lelaki kecilku di rumah) punya bakat cerewet. Biasalah, keturunan dari emaknya... hehe *bangga* :D 
Dan setelah lancar bicara pun, kecerewetannya bertambah. Kosakatanya pun semakin banyak. Kurasa dia juga seorang pendengar yang baik. 

Nah, kemarin entah belajar dari mana tiba-tiba celotehnya membuat kami tertawa

Senin, 30 Juli 2012

Tentang "SEGITIGA"

Alhamdulillah, untuk kedua kalinya tulisanku dimuat di media. Yahhh, meski tulisan itu bukanlah tulisan berat seperti cerpen, esai atau artikel lainnya. Tapi setidaknya, bisa nitip tulisan ke media dan dibaca orang banyak bagiku itu sudah 'sesuatu' banget. *narsis kumat* :D

Kali ini resensiku dimuat di Tribun Jogja (Minggu, 29 Juli 2012) dalam kolom Dunia pustaka



Rabu, 25 Juli 2012

Nak, Tolong Beliin Mama Pulsa...!!!


Lagi, dan lagi! Sering sekali aku mendapat sms yang isinya minta dibelikan pulsa dengan versi yang hampir sama. Entah itu yang memakai sebutan "Papa" atau "Mama", hingga membawa-bawa kantor polisi segala. Intinya si pengirim sms minta agar nomornya diisi pulsa. Duileeehhh, emangnya gue conter HP! Para penipu yang suka memplagiat, halah :D

Karena sudah kebal dengan sms-sms yang seperti itu, aku sih fine-fine aja. Begitu ada sms serupa yang masuk, langsung DELETE sudah beres! Tapi yang perlu diwaspadai ketika si penipu memakai modus yang agak berbeda. Dan herannya, dia justru berani menelepon.

Pernah di suatu malam aku hampir saja percaya kalau si penelepon adalah temanku semasa SMA dulu. Rupanya si penipu sudah agak naik grade kepintarannya dengan memanfaatkan kondisi (calon) korban yang rata-rata tak menyadari ketika dia sudah (hampir) menjadi korban.

Begini kira-kira kejadiannya :

Selasa, 24 Juli 2012

Bukan Badut Biasa



     Kuamati jam dinding yang terus berdetak. Jarum pendeknya hampir menyentuh angka tujuh. Hatiku mulai cemas. Tidak biasanya Ibu pulang selarut ini. Konsentrasiku untuk belajar buyar seketika. Sementara itu suara guntur mulai menggelegar menandakan kalau sebentar lagi hujan akan turun dengan deras.

     “Ya Allah.. lindungilah di mana Ibu berada,” lirih kuucap sebaris kalimat doa untuk Ibu yang sekarang entah di mana. Sungguh, aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Ibu.

     Aku pernah merasakan bagaimana pedihnya kehilangan seseorang yang sangat kusayangi. Dua tahun yang lalu, Ayah pulang tinggal nama. Tabrakan maut di jalur tengkorak telah melayangkan nyawanya.