"Kejam kamu!!"
Itulah reaksi pertama yang keluar dari mulut nenekku saat aku beritahu kalau lelaki kecilku sudah kusapih dari dot-nya. Aku mengernyit heran. Kejam? Kenapa? Mendapat vonis kejam seperti itu, aku merasa diriku berubah layaknya monster yang siap menelan mangsa. Ada perasaan perih yang sedikit menggores hatiku. Benarkah aku sudah kejam terhadap anakku sendiri?
Kejam itu kalau aku memukuli anakku sendiri. Kejam itu kalau aku tak memberi makan pada anakku. Kejam itu kalau aku tak lagi memberikan susu setelah kusapih dari dot-nya. Dan mungkin masih banyak hal-hal lain yang bersifat menyakiti atau membuat seorang anak terluka, yang lebih pantas untuk menyandang vonis kejam. Sedangkan aku? Aku belum pernah memukul anakku (dan semoga tidak pernah), aku juga masih rutin memberinya makan, aku pun juga masih memberikan susu pada lelaki kecilku, meski sekarang media untuk minumnya bukan lagi di dot, melainkan di gelas / cangkir. Lalu aku dikatakan kejam darimana? Bahkan dengan penyapihan dot ini, bukan berarti aku mengurangi kasih sayang kepada lelaki kecilku.


