Selasa, 22 Januari 2013

Baby Sitter, Oh Baby Sitter ...

Baby sitter. Semua orang tahu tentang profesi ini. Profesi yang hanya dilakukan oleh seorang wanita untuk menjadi penjaga bayi, mulai dari merawat, mengasuh, hingga menggendong bayi kemana pun, termasuk ketika si ibu dari bayi tersebut sedang shopping memilih dan memilah barang-barang di mall. Kadang, baby sitter juga harus punya nafas panjang ketika anak yang diasuhnya masuk dalam kategori balita. Ada kalanya, balita itu akan mengajak 'mbak' pengasuhnya kejar-kejaran saat hendak disuapi. :D 

Baby sitter. Aku tak pernah sedikit pun bercita-cita ingin menjadi seorang baby sitter. Tapi kenyataannya, aku pernah menjalani profesi itu di tahun 2005. Baby sitter selama 18 hari! Ya, cukup delapan belas hari saja, karena di hari kesembilan belas, aku lebih memilih pulang ke rumah orang tuaku sendiri.  


Kamis, 27 Desember 2012

Aku Kejam...???

          "Kejam kamu!!"

     Itulah reaksi pertama yang keluar dari mulut nenekku saat aku beritahu kalau lelaki kecilku sudah kusapih dari dot-nya. Aku mengernyit heran. Kejam? Kenapa? Mendapat vonis kejam seperti itu, aku merasa diriku berubah layaknya monster yang siap menelan mangsa. Ada perasaan perih yang sedikit menggores hatiku. Benarkah aku sudah kejam terhadap anakku sendiri?
     
     Kejam itu kalau aku memukuli anakku sendiri. Kejam itu kalau aku tak memberi makan pada anakku. Kejam itu kalau aku tak lagi memberikan susu setelah kusapih dari dot-nya. Dan mungkin masih banyak hal-hal lain yang bersifat menyakiti atau membuat seorang anak terluka, yang lebih pantas untuk menyandang vonis kejam. Sedangkan aku? Aku belum pernah memukul anakku (dan  semoga tidak pernah), aku juga masih rutin memberinya makan, aku pun juga masih memberikan susu pada lelaki kecilku, meski sekarang media untuk minumnya bukan lagi di dot, melainkan di gelas / cangkir. Lalu aku dikatakan kejam darimana? Bahkan dengan penyapihan dot ini, bukan berarti aku mengurangi kasih sayang kepada lelaki kecilku.
          

Sabtu, 22 Desember 2012

Happy Mother Day


Seharian ini wall-wall di FB pada penuh dengan ucapan "Selamat Hari Ibu", "Happy Mother Day", atau yang sejenisnya. Apapun sebutannya, Ibu, Mama, Mommy, Mother, Ummi, atau Bunda, adalah sosok yang begitu berarti dalam kehidupan kita. Kalau aku sih terbiasa memanggil Ibu dengan sebutan Emak. Biar ndeso, tapi aku lebih menyukai panggilan itu. Bahkan keponakan dan anakku sendiri memanggil Ibuku dengan sebutan "Mak". :D

Kadang aku berpikir, apa sih yang sudah aku persembahkan buat Emakku? Dan kalau diingat-ingat sekaligus sesuai faktanya, aku merasa belum bisa memberikan sesuatu yang berharga buat Emak. Duh Mak... maafkan anakmu ini!

Jumat, 21 Desember 2012

# GA Ya Allah Beri Aku Kekuatan, Aida MA


Wanita Fajar dan Gadis Kecilnya

Ada kalanya Allah memberikan kita ‘cermin’ dari kehidupan orang lain di sekitar kita, agar kita lebih banyak memanjatkan syukur
***
            
     Dia bukanlah siapa-siapa, hanya tetangga dekat rumah (tempat tinggal suami), yang kebetulan kisah hidupnya mampu memberikan gambaran tentang kekuatan seorang wanita dalam menjalani cobaan hidup. Sebut saja namanya Sri (nama disamarkan).

     Sri adalah anak pertama dari sebuah keluarga yang bisa dibilang berada. Orang tuanya (tinggal ibunya saja) memiliki sawah berpatok-patok. Kambing peliharaannya pun puluhan ekor. Akan tetapi keadaan itu tak lantas membuat Sri berpangku tangan menikmati harta orang tua. Sebelum fajar menyingsing, Sri sudah berkutat dengan aktivitasnya mengumpulkan barang-barang bekas. Ya, itulah pekerjaan Sri – pemungut barang bekas.

     Pasti dibenak kita akan bertanya-tanya, “Orang tuanya saja kaya, kenapa dia mesti jadi pemungut barang bekas?” Awalnya, aku pun bertanya demikian. Tetapi begitu menelusuri kehidupannya, barulah aku mengerti. Rupanya, ibunya Sri pernah menolak keadaan Sri. Kenapa? Karena Sri adalah seorang penyandang disabilitas. Sebenarnya bukan bawaan sejak lahir, namun sebuah insiden kecelakaanlah yang akhirnya merenggut kebebasan gerak Sri. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Mungkin itulah peribahasa yang pas untuk menggambarkan nasib Sri. Di saat fisiknya tak lagi normal, dukungan dari keluarga pun seolah hilang. Dengan alasan itulah, Sri merasa berkewajiban untuk mencari nafkah untuk dirinya sendiri, karena dia tak ingin merepotkan ibu dan keluarganya yang lain. Sebelum menjadi seorang pemungut barang bekas, Sri juga pernah menjadi seorang pengasuh bayi.
(Catatan : kondisi fisik Sri cacat tangan dan kaki. Tangan sebelah kanan jari-jarinya menekuk, sedangkan telapak kaki kanan posisinya miring, sehingga jalannya timpang).

Kematian Kedua



Judul          : Kematian Kedua
Penulis        : Oke Sudrajat
Penerbit      : Penerbit Anza
Terbit          : Mei 2012
Halaman      : viii + 168 halaman


           Kematian adalah sebuah misteri. Terkait dengan misteri sebab, waktu, dan tempat. Hanya Tuhan yang mengetahui segala jawaban perihal kematian. Seringkali kata kematian itu sendiri menimbulkan ketakutan. Namun tidak seharusnya takut itu ada, karena bagaimanapun setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati. Pasti!
            Kematian bisa terjadi pada siapa saja, tidak pandang umur. Bisa saja terjadi pada seseorang di usia yang belum genap tiga puluh tahun, seperti yang terjadi pada Desta dan Maya – kedua tokoh dalam novel ini. Desta dan Maya mengalami kematian dengan sebab yang berbeda. Namun siapa sangka jika Tuhan belum benar-benar berkehendak mencabut nyawa mereka, hingga kematian itu tertunda. Keduanya kembali menghirup udara kehidupan. Pihak medis menyebutnya mati suri.
            Kehidupan Desta dan Maya berubah drastis setelah mereka kembali hidup dari kematiannya. Banyak hal aneh di luar logika yang sering mereka temui. Mereka menyadari keanehan ini semenjak mereka masih di rumah sakit. Kesamaan inilah yang akhirnya membuat keduanya semakin dekat.