Sabtu, 07 September 2013

Sejenak Kehilanganmu


Ini dia penampakan lelaki kecil saya :)
Kemarin menjelang maghrib, saya dibuat bingung tujuh keliling oleh lelaki kecil saya. Pasalnya, dia ngilang tiba-tiba. Pas waktu maghrib pula. Duhhh, mendadak hati jadi kebat-kebit takut lelaki kecil saya digondol kolong wewe seperti yang sering dipercaya orang tua zaman dulu. Itulah mengapa orang tua zaman dulu sering melarang anak-anak main di luar rumah waktu maghrib. Konon katanya sih banyak kolong wewe yang menculik anak-anak. Hiiyyy, serem. Amit-amit. Kalau zaman sekarang mungkin si kolong wewenya ya yang takut, secara dimana-mana lampu menerangi jalan-jalan desa. Tapi tetep aja dong, sebagai seorang ibu, rasa takut kehilangan itu tetap ada.

Sebenarnya saya juga yang lengah. Waktu itu saya sedang berada di kamar, tengah bersiap-siap melaksanakan sholat maghrib. Tiba-tiba lelaki kecil saya membuka pintu kamar dan keluar. Biasanya sih kalau dia keluar begitu, dia mau ikut Mbah Uti-nya ke masjid.
Tapi apa pasal? Ketika ternyata Mbah Uti-nya berangkat ke masjid sendiri, hati saya langsung deg-degan. Apalagi Mbah Uti bilang tidak tahu dimana lelaki kecil saya berada. Kupanggil-panggil namanya, nggak nyahut. Kuperiksa seluruh ruangan di rumah kami, juga tidak ada. Lalu saya pun bertanya pada tetangga kiri-kanan rumah, siapa tahu lelaki kecil saya main ke sana. Ternyata tidak ada juga. Saya tengok masjid, juga tidak ada. Astagfirullah, saya pengen nangis saat itu juga. Hal-hal buruk mulai menggoda pikiran saya. Terlebih beberapa saat lalu marak penculikan anak. Naudzubillah. Bapak mertua malah memarahi saya di saat kondisi seperti ini. Duh ... sedih!

Masih dengan perasaan tak menentu, saya kembali menengok ke masjid. Di sana ibu mertua tampak mondar-mandir selesai shalat. Dan ketika saya perhatikan baik-baik, saya langsung mengelus dada merasa lega. Dengan muka polosnya, lelaki kecil saya sudah bermain dengan teman-teman kecilnya di beranda masjid. Duh, bikin cemas ibu saja kamu, Nak. Karena tak mau diajak pulang, saya pun meninggalkannya dengan Mbah Uti. 

Saya melanjutkan sholat maghrib saya yang tertunda. Selesai shalat maghrib itulah tiba-tiba saya bisa menangis tersedu-sedu. Dalam doa, saya memohon ampun pada Allah jika selama ini belum becus menjaga amanahNya. Entah mengapa timbul penyesalan yang teramat dalam. Bayangan buruk kembali menari-nari dalam benak saya. Bagaimana jika suatu saat Allah mengambilnya karena saya dinilai tak bisa menjaga amanahNya? Bagaimana seandainya tadi saya tidak lagi bisa melihat senyumnya? dan entah berapa banyak kata tanya 'bagaimana' yang semakin menambah rasa bersalah saya pada lelaki kecil yang saya lahirkan 3 tahun silam. Mungkin saya yang terlalu berlebihan, tapi nyatanya saya benar-benar merasakan kehilangan itu.

Begitu lelaki kecil saya masuk ke kamar diantar Mbah Utinya, segera kupeluk dia. Mbah Uti-nya bilang rupanya lelaki kecil saya tadi menunggunya di masjid. Untung saja dia cukup mengerti, tidak bermain-main di pinggir jalan dan hanya berdiam diri duduk di masjid menunggu Mbah Uti-nya. Mendengar semua itu saya hanya bisa diam, tak bisa berkata-kata lagi. Saya hanya bisa memeluk serta menciumi lelaki kecil saya, yang justru tersenyum-senyum dan bilang, "Buk, tadi aku nunggu Mah Uti di masjid."
Owalaaahhh, Nak... kamu tak tahu ibumu ini nyaris pingsan karena mencarimu.

Adakah yang pernah mengalami hal serupa seperti saya? :D

10 komentar:

  1. Next time hati2 yaaa... Anak2 emang gitu, suka ambil keputusan sendiri, gak paham kalau dia gak boleh ambil keputusan tanpa persetujuan ortu. Lucu ketawanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Harus lebih hati-hati sekarang, soalnya lelaki kecil saya suka pergi diam-diam. Biasanya ke masjid kalau tidak sama saya ya sama Mbah Uti-nya. Nah, itu pas saya baru mau ambil mukena, dianya sudah kabur duluan :D

      Hapus
  2. Sebenarnya ananda anak yang smart, kreatif dan pemberani, Gemes juga deh liat fotonya yang imut Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.. iya bener, dia memang termasuk anak yang pinter dan pemberani, tapi kadang ya itu, suka bikin emaknya sport jantung :D

      Hapus
  3. Bener, sebenernya anaknya pinter. Pasti dia tahu neneknya mau ke masjid, makanya dia ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tahu dari kebiasaan Mbah Uti-nya :)

      Hapus
  4. Untungnya bisa ketemu di beranda masjid ya kak. Alhamdulillah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha.. iya, rupanya pas aku nengok ke masjid tapi dia nggak ada itu ternyata dia nyempil di pojokan. Dasar pikiran lagi ruwet, nggak lihat anak lagi duduk di sana :D

      Hapus
  5. Jadi inget, ibuku pernah cerita kl aku 'ilang' karena diumpetin tetangga yg gemes dan pengen punya anak. Dan pas tahu si tetangga iseng menyembunyikan aku, duh Ibu marahnya luar biasa.. Yah, perasaan seorang Ibu yang mulia ga bisa diganti dgn apa pun ya.. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kalau itu mah yang keterlaluan tetangganya Mbak. Pinjam aja pasti boleh, sekalian ngemong daripada harus ngumpetin, hihihi :D

      Hapus